7 Maskapai Mulai Naikkan Tarif dan Kurangi Rute, Imbas Harga Avtur Naik
Kalau belakangan ini kamu merasa harga tiket pesawat makin susah ditebak atau pilihan jadwal penerbangan mulai berkurang, ternyata bukan cuma perasaan.
Beberapa maskapai di berbagai negara mulai menyesuaikan operasional mereka setelah harga bahan bakar pesawat (avtur) mengalami kenaikan dan pasokan global ikut terganggu akibat situasi geopolitik yang memanas.
Dampaknya mulai terasa dalam bentuk yang cukup familiar buat traveler: tiket naik, frekuensi penerbangan dikurangi, sampai beberapa rute dihentikan sementara.
Berikut beberapa maskapai yang sudah mulai melakukan penyesuaian.
1. Scandinavian Airlines: Pangkas Ribuan Penerbangan
Maskapai asal Skandinavia ini menjadi salah satu yang paling agresif melakukan efisiensi.
Sekitar 1.000 penerbangan dibatalkan, terutama untuk rute jarak pendek di kawasan Nordik. Selain mengurangi jadwal, perusahaan juga mulai melakukan penyesuaian tarif untuk menjaga operasional tetap berjalan di tengah kenaikan biaya bahan bakar.
2. United Airlines: Kurangi Jam Terbang yang Kurang Efisien
United Airlines memilih memangkas penerbangan di jam dengan permintaan lebih rendah, termasuk sejumlah penerbangan malam.
Strateginya bukan menutup rute besar, tapi mengurangi penerbangan yang dianggap kurang menguntungkan dalam kondisi biaya operasional yang meningkat.
Maskapai ini juga memperkirakan kenaikan harga bahan bakar bisa memberi tambahan beban biaya dalam skala miliaran dolar setiap tahun.
3. Vietnam Airlines: Mulai Tahan Ekspansi dan Kurangi Rute
Vietnam Airlines mengambil langkah dengan menghentikan beberapa rute domestik sejak awal April 2026.
Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga efisiensi jaringan penerbangan dan mengurangi tekanan dari biaya avtur yang naik.
Jika kondisi harga terus bertahan tinggi, kemungkinan penyesuaian tambahan masih bisa terjadi.
4. Air New Zealand: Fokus ke Rute yang Lebih Produktif
Air New Zealand juga melakukan pengurangan jadwal sekitar lima persen dari total kapasitas.
Sebagian besar penyesuaian dilakukan di rute domestik dan wilayah regional dengan jumlah penumpang yang lebih rendah.
Tujuannya bukan menghentikan layanan utama, tapi mengatur ulang kapasitas supaya operasional tetap sehat.
5. AirAsia X: Mulai Seleksi Rute yang Tetap Dipertahankan
Maskapai ini secara terbuka menyampaikan bahwa kenaikan harga tiket kemungkinan sulit dihindari.
Selain itu, beberapa rute juga mulai dievaluasi berdasarkan kemampuan menutup biaya operasional yang terus meningkat.
Meski begitu, destinasi dengan permintaan tinggi tetap diprioritaskan.
6. JAL dan ANA: Tambahan Biaya Bahan Bakar Naik
Dua maskapai besar Jepang ini mengambil pendekatan berbeda.
Alih-alih mengurangi banyak rute, mereka berencana menaikkan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar.
Artinya, harga akhir tiket bisa ikut berubah meski tarif dasar terlihat sama.
7. Batik Air Malaysia: Kurangi Kapasitas Penerbangan
Batik Air Malaysia juga ikut melakukan penyesuaian dengan mengurangi sebagian jadwal penerbangan.
Langkah ini dilakukan untuk menghemat sumber daya di tengah tingginya biaya operasional.
Apa Dampaknya Buat Traveler?
Belum tentu semua tiket langsung mahal.
Tapi ada beberapa pola yang kemungkinan mulai lebih sering terlihat:
- harga tiket lebih cepat berubah
- pilihan jam penerbangan berkurang
- transit lebih sering muncul
- tiket promo semakin cepat habis
Buat yang memang sudah punya rencana ke luar negeri dalam beberapa bulan ke depan, mungkin sekarang jadi waktu yang lebih masuk akal untuk mulai cek jadwal dan susun perjalanan lebih awal.
Dan satu hal kecil yang sering baru terasa setelah tiket sudah dibeli: internet saat sampai di negara tujuan.
Karena sekarang hampir semua perjalanan bergantung pada aplikasi — mulai dari boarding pass, peta, transportasi, sampai perubahan jadwal penerbangan.
Kalau sudah tahu mau ke negara mana, kamu bisa sekalian siapkan eSIM sebelum berangkat supaya tetap online tanpa repot cari kartu lokal.